MALIANA – Sebuah langkah monumental telah diambil oleh Escola Secundária Técnica Vocacional (ESTV) Dom Bosco Maumali dalam merancang peta jalan masa depan pendidikan vokasi. Selama tiga hari berturut-turut, mulai tanggal 9 hingga 11 Oktober 2025, sekolah ini menyelenggarakan Konsultasi Publik penyusunan Rencana Strategis (Strategic Plan) untuk periode 2026-2030.
Kegiatan ini bukan sekadar rapat rutin, melainkan sebuah forum demokrasi pendidikan yang bertujuan untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan industri yang terus berubah.
1. Penyatuan Visi dan Komitmen Stakeholder
Penyusunan rencana strategis ini didasari oleh kesadaran bahwa pendidikan vokasi tidak bisa berjalan sendirian (single fighter). Diperlukan ekosistem yang mendukung, mulai dari kebijakan pemerintah, dukungan orang tua, hingga serapan dunia industri.
Sesi pembukaan diisi dengan arahan strategis dari pihak yayasan dan pimpinan sekolah. Dalam sambutannya, ditegaskan bahwa ESTV Dom Bosco Maumali harus menjadi "mercusuar" pendidikan keterampilan di wilayah Maliana dan sekitarnya. Komitmen ini terlihat dari antusiasme para pemangku kepentingan (stakeholders) yang hadir.
Forum ini dihadiri oleh representasi lengkap ekosistem pendidikan: Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen & Direktur Nasional Pendidikan Kejuruan), mitra dunia usaha dan industri (DUDI) yang memberikan wawasan pasar kerja, perwakilan sekolah kejuruan sahabat, komite sekolah, hingga alumni yang telah terjun ke masyarakat.
2. Berpijak pada Data: Tantangan dan Impian
Sebuah perencanaan yang baik harus dimulai dengan kejujuran melihat kondisi diri sendiri. Oleh karena itu, sebelum melangkah ke perumusan strategi, para peserta diajak untuk membedah "Profil Sekolah" secara komprehensif.
Fasilitator memaparkan data-data krusial yang mencakup kondisi infrastruktur, kualitas tenaga pengajar, hingga data serapan lulusan. Dari sini, peserta diperkenalkan dengan dua konsep utama: Desafios (Tantangan nyata yang menghambat) dan Mehi (Impian atau Visi ideal yang ingin dicapai).
Salah satu pertanyaan pemantik yang menggugah peserta adalah: "Susesu ki'ik saida deit mak ita hakarak atu haree iha rohan tinan 5-30 mai?" (Kesuksesan-kesuksesan kecil apa saja yang ingin kita lihat di akhir periode 5-30 tahun mendatang?). Pertanyaan ini merangsang peserta untuk berpikir spesifik dan terukur.
3. Metodologi Diskusi yang Sistematis
Agar diskusi tidak melebar dan tetap fokus pada solusi, panitia menerapkan metode diskusi yang terstruktur namun tetap partisipatif. Fasilitator menjelaskan alur kerja (workflow) yang harus dilalui oleh setiap kelompok.
Penjelasan mengenai "Prosesu ba Diskusaun no Aprezentasaun" memastikan bahwa setiap ide yang muncul akan dicatat, dikategorikan, dan diuji validitasnya oleh forum. Hal ini mengajarkan peserta tentang tata cara musyawarah yang akademis dan profesional.
4. Dinamika Focus Group Discussion (FGD)
"...ESTV DOM BOSCO MAUMALI: IHA NE’EBE NO ATU BA NE’EBE TINAN 5 MAI?.."
(Di mana posisi kita sekarang, dan ke mana kita akan melangkah dalam 5 tahun ke depan?)
Inti dari kegiatan tiga hari ini adalah sesi diskusi kelompok terpumpun (FGD). Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Uniknya, siswa duduk satu meja dengan guru, orang tua, dan praktisi industri. Hierarki dikesampingkan demi lahirnya ide-ide murni.
Suasana diskusi berjalan sangat hidup. Para siswa dengan berani menyampaikan aspirasi mereka mengenai metode belajar yang mereka butuhkan, sementara pihak industri memberikan realita kompetensi yang wajib dimiliki lulusan agar cepat terserap kerja. Sinergi Link and Match benar-benar terjadi di ruangan ini.
5. "Dinding Harapan": Visualisasi Masa Depan
Salah satu metode menarik yang digunakan adalah teknik visualisasi ide. Hasil diskusi tidak hanya berakhir di notulensi laptop, tetapi dituangkan dalam kertas-kertas berwarna (sticky notes) dan ditempelkan di dinding aula utama.
Dinding aula seketika berubah menjadi "Galeri Aspirasi" yang penuh warna. Setiap kertas mewakili satu ide brilian, satu kritik membangun, atau satu solusi inovatif. Metode ini menjamin transparansi—semua orang bisa membaca apa yang dipikirkan oleh kelompok lain.
Terlihat jelas partisipasi aktif dari para siswa. Mereka tidak canggung untuk maju ke depan, memegang mikrofon, dan menjelaskan peta konsep yang mereka buat. Ini adalah bukti bahwa ESTV Dom Bosco Maumali mendidik siswanya untuk memiliki kepemimpinan dan kepercayaan diri.
6. Menatap 2030 dengan Optimisme
Setelah tiga hari yang padat dengan dialektika pemikiran, kegiatan ditutup dengan hasil yang menggembirakan. Dokumen Strategic Plan 2026-2030 yang dihasilkan bukanlah produk instan, melainkan kristalisasi dari ratusan pemikiran kolektif keluarga besar Dom Bosco Maumali.
Dokumen ini akan menjadi panduan (guideline) dalam pengambilan keputusan manajerial, pengembangan kurikulum, hingga peningkatan sarana prasarana selama lima tahun ke depan. Tujuannya satu: Mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berkarakter salesian yang kuat, jujur, dan pekerja keras.
Dengan semangat Santo Don Bosco, seluruh komunitas sekolah siap melangkah bersama, bersinergi, dan bekerja keras untuk mewujudkan visi baru ini demi kemajuan generasi muda Timor-Leste yang unggul dan mandiri.